ugm-surabaya

ugm-surabaya

Kamis, 23 April 2015

santri kendil #1

Malam ini sehabis sholat isya’ mbah yai petani duduk-duduk di lincak depan rumahnya, ditemani bu nyai membicarakan sesuatu yang ringan. Aku datang menghampiri mereka berdua dan duduk di samping mbah yai petani. Kedatanganku membuat bu nyai masuk ke dalam rumah. Namun tak berapa lama ia keluar lagi membawa piring yang berisi jadah bakar, dan seteko kecil air teh, aku diijinkan menikmatinya,
“mbah yai, boleh saya ikut mengaji di mesjid kulon kali”, aku membuka pertanyaan.
“itu hakmu ngger, perhatikan niatmu dulu, kalau sudah benar lihat juga keadaanmu”
“maksudnya bagaimana mbah”,
“aku ingin tahu apa maksud terbesarmu ingin mengikuti pengajian itu”
“ingin menambah ilmu mbah”
“bagus ngger, tak ada yang lain?”
“ada mbah. Tapi saya malu mengungkapkan”,
“tak usah malu. Selagi malumu hanya sebatas kepadaku”
“begini mbah, saya terkadang kecewa dengan keadaan saya sekarang. Miskin, dekil, dan kurang berpendidikan. Karena itu saya ingin ikut pengajian, agar hati tenang. Kekecewaan saya bukan karena kemiskinan, kedekilan dan kebodohan itu, tapi karena dengan itu semua saya merasa tidak bisa mendapat apa yang seharusnya saya ingin dapatkan”
“bahasamu mbulet le. Tapi
aku sedikit menangkap akan maksudmu. Pernahkah kamu membayangkan akan mendapat kekayaan dan kewibawaan hidup le”
“pernah mbah, sering bahkan”
“apakah kamu pernah berpikir dengan itu semua kamu tidak ada halangan lagi mendapatkan apa yang kamu ingini?”
“saya tidak tahu mbah, saya belum pernah merasakan kaya”
“pinter kowe le. kalau kamu belum rasakan kaya, kenapa kamu yakin bahwa kekayaan bisa buatmu mendapat apa yang kamu inginkan?”,
“orang-orang yang berkata begitu mbah”,
“kalau orang-orang berkata sekolah itu keharusan bagi manusia, apakah kamu mempercayai mereka. Sedang kamu tidak pernah bersekolah?”,
“tidak mbah”,
“emangnya apa tho yang ingin kamu dapatkan?”,
“larasati mbah, anaknya babah liem tengkulak kedondong”,

“aku sudah mengira dari awal le, kalau memang itu yang kamu inginkan, seharusnya tidak ada siapapun yang membuatmu tidak pantas memiliki larasati. Termasuk dirimu sendiri”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar